Sabtu, 25 September 2010

MAIA ESTIANTI ; Wanita yang terluka

Maia juga mengungkapkan bahwa malam sebelum gugatan dilayangkan (15/11), dirinya sempat diusir Dhani. Maia mengaku sangat sedih. Pernikahan yang dibina selama 11 tahun harus ditentukan lewat pengadilan agama.

Ibu tiga anak tersebut mengaku, langkahnya kali ini tidak terlepas dari sifat keras yang ditunjukkan Dhani selama ini. "Dia (Dhani, Red) selalu menantang saya untuk gugat cerai," ujar perempuan cantik yang di masa remajanya pernah menjadi model majalah itu. 


 Desember 2006: Manajer Ratu, Vitalia Ramona, dipecat Dhani. Sebelumnya, gara-gara sulit mencari Maya yang sedang menghadiri sebuah pesta, Dhani melempar handphone Vita. Beberapa hari kemudian, dalam jumpa pers, Dhani meminta maaf kepada Vita dan mengganti handphone tersebut. 

Januari 2006: Dengan alasan adanya persoalan finansial, Mulan Kwok memutuskan mundur dari Ratu.

Maret 2007: Maya cuti sesaat dari dunia hiburan. Dhani mendirikan manajemen artis Republik Cinta. Mulan menjadi anggota manajemen itu, namun Maya tidak.

April 2007: Maya mulai tampil lagi. Dia masih membawa bendera Ratu, meski belum menemukan partner tetap menyanyi. Ditemani sang ibu, Maya berangkat umrah (23/4). Maya pergi dengan linangan air mata karena tak bisa bertemu Dhani untuk berpamitan. Sebelum berangkat umrah, Maya melaporkan Dhani ke Polda Metro Jaya (20/4) dengan tuduhan KDRT. Tak terima, giliran Dhani ungkap Maya selingkuh.

Mei 2007: Dengan bantuan Kak Seto dari Komnas Anak, Maya dan Dhani yang sedang perang dingin menemukan sejumlah kesepakatan. Termasuk, Dhani memberi Maya kunci rumah dan Maya berjanji untuk tak merokok di depan anak-anak.

Agustus 2007: Maya kembali melaporkan Dhani ke Polda Metro Jaya dengan alasan KDRT.

September 2007: Proses mediasi demi perdamaian Maya dan Dhani terus dilakukan berbagai pihak.

Oktober 2007: Maya melalui Lebaran sendiri tanpa suami dan anak. Maya mulai wacanakan keinginan berpisah. Sementara itu, Dhani yang tak mau kalah juga menyatakan mau menerima Maya lagi, asal diizinkan poligami.

November 2007: Maya melaporkan Dhani ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dengan alasan akses bertemu ketiga anaknya dibatasi. Dhani menanggapi laporan tersebut dengan datang ke KPAI. Dua hari setelah kedatangan Dhani itu, Maya memutuskan untuk menggugat cerai.


 

KASUS 2 WANITA YANG TERLUKA

“Saya sudah bukan marah lagi. Saya sedih dan betul-betul terluka. Saya percaya kepada mereka sekian tahun, tapi saya dibuat seperti ini,” Daisy Fajarina menantang pihak Tengku Muhammad Fakhry dan keluarga, suami anaknya Manohara, perang media. Daisy memilih media, tak lain karena perjuangannya secara kekeluargaan tak bisa terjadi. Satu buktinya, Daisy tetap dicekal untuk menemui Manohara.

“Sebagai seorang ibu, banyak orang yang menolong saya, termasuk media. Kalau mereka mau pakai media, silakan saja. Tapi kok jadi njlimet gitu,” jelas ibunda Manohara Odelia Pinot, Daisy Fajarina, kepada inilah.com, Minggu malam (3/5) saat Ditemui di kediamannya, di jalan Anggrek Cendrawasih Kav 5-7, Slipi, Jakarta Barat.
Daisy memilih berteriak di media, karena sebelumnya tak pernah ada itikad baik dari pihak Kesultanan Kelantan Malaysia.
“Kalau bukan ke media kemana lagi? Saya mencari Mano. Ke sana malah dicekal. Kalau sekarang sudah dikatakan tidak dicekal, tolong buktikan dengan surat kalau saya sudah tidak dicekal,” papar Daisy yang terlihat kesal.
Atas kasus yang menimpa tersebut, jelas membuat Daisy terluka hatinya. “Saya sudah bukan marah lagi. Saya sedih dan betul-betul terluka. Saya percaya kepada mereka sekian tahun, tapi saya dibuat seperti ini,” kata Daisy dengan mata berkaca-kaca.[aji]

BEBERAPA KASUS WANITA YANG TERLUKA

Melihat infotainment hari ini, saya menangkap kegeraman yang dilontarkan Atta (istri Raul Lemos) kepada calon mantan suami dan juga (terutama) perempuan yang telah menyerobot suaminya itu… sang Diva, Krisdayanti. Dari sisi kewanitaan tentu saja saya pun memiliki empati padanya, wajar saja kalau dia begitu geram dan terlihat sangat menyerang KD dengan kata-kata pedas, hingga melontarkan ucapan “muntah” jika bertemu dengan kekasih baru suaminya itu. Namun kata-kata pedas itu pula yang mewakili bagaimana perasaan hatinya, pedih karena suaminya berselingkuh dan tidak setia, juga geram karena seorang perempuan lain telah merusak rumah tangganya.
Reaksi geram Atta sebetulnya mewakili reaksi beribu istri-istri yang merasakan pahit dan pedihnya ditinggalkan oleh suaminya karena sang suami jatuh cinta pada perempuan lain. Teraniaya batin dan hidupnya karena kelakukan orang yang seharusnya menjadi pemimpin, yang menyayangi dan melindungi keluarganya. Hanya kali ini seorang selebriti yang disebut “DIVA” yang telah melakukan tindakan tersebut sehingga kegeraman yang terucapkan oleh perempuan yang teraniaya ini terekam di media dan disaksikan oleh banyak pihak. Bolehkah Atta melontarkan kegeramannya karena dirinya teraniaya oleh sikap KD dan juga Raul Lemos suaminya?
Kata-kata “haram”, “muntah” dan “teraniaya” yang keluar dari mulut Atta memang dirasa sangat keras memukul harga diri seorang KD. Tetapi toh, KD tidak bisa membalas balik apa yang diucapkan oleh istri kekasihnya. Yang bisa dilakukan oleh KD adalah pamer sikap mesra terhadap Raul yang sedikit banyak memang ‘disengaja’  ditunjukkan oleh para pencari berita. Anehnya, panas perseteruan Atta dan Yanti sepertinya tidak menyentuh banyak pada sosok Raul sendiri. Berita tentang laki-laki yang rela meninggalkan istri dan 2 anaknya demi KD tidak banyak disorot media, hanya pada saat-saat tertentu ketika KD ‘memakainya sebagai objek penderita’ untuk membalas kata-kata pedas Atta. Pemikiran saya waktu itu adalah ketidak adilan bagi kaum hawa disaat seperti ini, mereka berseteru sementara sang pelaku laki-laki “adhem ayem” tenang-tenang tak terusik oleh rasa bertanggungjawab dengan keadaan panas yang diakibatkan karena  perbuatannya.
Antara Atta dan Yanti, keduanya akhirnya yang menanggung perbuatan Raul juga. Atta yang ditinggalkan demi cinta yang lain, kepedihannya dan sakit hati juga terhina oleh ketidaksetiaan sang suami yang dia curahkan dengan mencerca rivalnya. Juga Yanti, yang mendapatkan bogem bulan-bulanan kata-kata pedas Atta yang berpotensi merusak image yang dia bangun susah payah hingga diberi gelar DIVA, kata-kata ‘haram’ dan ‘muntah’ bisa berpotensi menjadi pembunuhan karakter. Kendali Yanti memang di pihak yang bersalah, tapi seharusnya dia tidak menanggung ini sendirian kan?
Perempuan yang teraniaya mungkin sudah begitu umum, hingga hampir tidak lagi menjadi suatu hal yang perlu diperhatikan. Cukup dengan simpati dan empati, kemudian mereka pasti akan bisa bertahan dalam menghadapi hidupnya yang naas dan tidak lagi berada di daftar agenda perhatian kita . Mereka mungkin tidak terluka secara jasmani, tetapi terkoyak-koyak dalam bathin. Begitu banyak perempuan teraniaya tapi tidak mendapat tempat mengadu yang cukup dan membantu, tempat yang bisa menampung kepedihan mereka.
Tetapi tetap harus diingat bagi para perempuan yang merasa teraniaya, bahwa Tuhan Maha Adil, Dia lebih sayang pada kita, dan Dia memberi lebih banyak kekuatan pada kita, oleh karena itu jadilah TEGAR. Semoga.

ASAL PEREMPUAN

Berbedakah asal kejadian perempuan dari lelaki? Apakah perempuan diciptakan oleh tuhan kejahatan ataukah mereka merupakan salah satu najis (kotoran) akibat ulah setan? Benarkah yang digoda dan diperalat oleh setan hanya perempuan dan benarkah mereka yang menjadi penyebab terusirnya manusia dari surga?
Demikian sebagian pertanyaan yang dijawab dengan pembenaran oleh sementara pihak sehingga menimbulkan pandangan atau keyakinan yang tersebar pada masa pra-Islam dan yang sedikit atau banyak masih berbekas dalam pandangan beberapa masyarakat abad ke-20 ini.
Pandangan-pandangan tersebut secara tegas dibantah oleh Al-Quran, antara lain melalui ayat pertama surah Al-Nisa':
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari jenis yang sama dan darinya Allah menciptakan pasangannya dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan lelaki dan perempuan yang banyak.
Demikian Al-Quran menolak pandangan-pandangan yang membedakan (lelaki dan perempuan) dengan menegaskan bahwa keduanya berasal dari satu jenis yang sama dan bahwa dari keduanya secara bersama-sama Tuhan mengembangbiakkan keturunannya baik yang lelaki maupun yang perempuan.
Benar bahwa ada suatu hadis Nabi yang dinilai shahih (dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya) yang berbunyi:
Saling pesan-memesanlah untuk berbuat baik kepada perempuan, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. (Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Tirmidzi dari sahabat Abu Hurairah).
Benar ada hadis yang berbunyi demikian dan yang dipahami secara keliru bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam, yang kemudian mengesankan kerendahan derajat kemanusiaannya dibandingkan dengan lelaki. Namun, cukup banyak ulama yang telah menjelaskan makna sesungguhnya dari hadis tersebut.
Muhammad Rasyid Ridha, dalam Tafsir Al-Manar, menulis: "Seandainya tidak tercantum kisah kejadian Adam dan Hawa dalam Kitab Perjanjian Lama (Kejadian II;21) dengan redaksi yang mengarah kepada pemahaman di atas, niscaya pendapat yang keliru itu tidak pernah akan terlintas dalam benak seorang Muslim."192
Tulang rusuk yang bengkok harus dipahami dalam pengertian majazi (kiasan), dalam arti bahwa hadis tersebut memperingatkan para lelaki agar menghadapi perempuan dengan bijaksana. Karena ada sifat, karakter, dan kecenderungan mereka yang tidak sama dengan lelaki, hal mana bila tidak disadari akan dapat mengantar kaum lelaki untuk bersikap tidak wajar. Mereka tidak akan mampu mengubah karakter dan sifat bawaan perempuan. Kalaupun mereka berusaha akibatnya akan fatal, sebagaimana fatalnya meluruskan tulang rusuk yang bengkok.
Memahami hadis di atas seperti yang telah dikemukakan di atas, justru mengakui kepribadian perempuan yang telah menjadi kodrat (bawaan)-nya sejak lahir.
Dalam Surah Al-Isra' ayat 70 ditegaskan bahwa:
Sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan (untuk memudahkan mencari kehidupan). Kami beri mereka rezeki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk-makhluk yang Kami ciptakan.
Tentu, kalimat anak-anak Adam mencakup lelaki dan perempuan, demikian pula penghormatan Tuhan yang diberikan-Nya itu, mencakup anak-anak Adam seluruhnya, baik perempuan maupun lelaki. Pemahaman ini dipertegas oleh ayat 195 surah Ali'Imran yang menyatakan: Sebagian kamu adalah bagian dari sebagian yang lain, dalam arti bahwa "sebagian kamu (hai umat manusia yakni lelaki) berasal dari pertemuan ovum perempuan dan sperma lelaki dan sebagian yang lain (yakni perempuan) demikian juga halnya." Kedua jenis kelamin ini sama-sama manusia. Tak ada perbedaan antara mereka dari segi asal kejadian dan kemanusiaannya.
Dengan konsideran ini, Tuhan mempertegas bahwa:
Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal, baik lelaki maupun perempuan (QS 3:195).
Pandangan masyarakat yang mengantar kepada perbedaan antara lelaki dan perempuan dikikis oleh Al-Quran. Karena itu, dikecamnya mereka yang bergembira dengan kelahiran seorang anak lelaki tetapi bersedih bila memperoleh anak perempuan:
Dan apabila seorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuan, hitam-merah padamlah wajahnya dan dia sangat bersedih (marah). Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak disebabkan "buruk"-nya berita yang disampaikan kepadanya itu. (Ia berpikir) apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup). Ketahuilah! Alangkah buruk apa yang mereka tetapkan itu (QS 16:58-59).
Ayat ini dan semacamnya diturunkan dalam rangka usaha Al-Quran untuk mengikis habis segala macam pandangan yang membedakan lelaki dengan perempuan, khususnya dalam bidang kemanusiaan.
Dari ayat-ayat Al-Quran juga ditemukan bahwa godaan dan rayuan Iblis tidak hanya tertuju kepada perempuan (Hawa) tetapi juga kepada lelaki. Ayat-ayat yang membicarakan godaan, rayuan setan serta ketergelinciran Adam dan Hawa dibentuk dalam kata yang menunjukkan kebersamaan keduanya tanpa perbedaan, seperti:
Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya ... (QS 7:20). Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan keduanya dikeluarkan dari keadaan yang mereka (nikmati) sebelumnya ... (QS 2:36).
Kalaupun ada yang berbentuk tunggal, maka itu justru menunjuk kepada kaum lelaki (Adam), yang bertindak sebagai pemimpin terhadap istrinya, seperti dalam firman Allah:
Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya (Adam) dan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepadamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan punah?" (QS 20:120).
Demikian terlihat bahwa Al-Quran mendudukkan perempuan pada tempat yang sewajarnya serta meluruskan segala pandangan yang salah dan keliru yang berkaitan dengan kedudukan dan asal kejadiannya.

WANITA SEBAGAI WANITA

Islam telah menghargai kewanitaan wanita dan Islam menganggap wanita sebagai unsur penyempurna bagi kaum laki-laki, sebagaimana laki-laki juga penyempurna bagi wanita. Maka bukanlah antara satu sama lain dari mereka itu sebagai musuh, bukan pula sebagai saingan, akan ketapi wanita sebagai penolong bagi kaum laki-laki untuk menyempurnaan kepribadian dan jenisnya, dan sebaliknya.
Sunnatullah telah berlaku pada makhluk-Nya bahwa perkawinan itu termasuk karakter tuntutan naluriah makhluk, sehingga kita melihat jenis kelamin laki-laki dan wanita itu ada di alam manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Demikian juga positif dan negatif yang ada pada alam benda, seperti listrik, magnit dan lainnya sampai atom, yang di dalamnya terdapat kekuatan listrik positif dan kekuatan (aliran) yang negatif (Elektron dan Proton).
Itulah yang disinggung oleh Al Qur'an sejak empat belas abad yang lalu, Allah SWT berfirman,
"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah" (Adz Dzariyaat: 49)
Laki-laki dan wanita itu seperti kaleng dengan tutupnya, yang saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lainnya. Sejak Allah SWT menciptakan Adam as, Allah juga menciptakan isterinya yang bernama Hawwa, agar Adam merasa tentram dengannya dan Allah tidak membiarkan Adam sendirian meskipun tinggal di surga. Firman Allah juga ditujukan untuk dua orang secara bersamaan, baik perintah maupun larangan, sebagaimana firman Allah SWT:
"Hai Adam, diamilah olehmu dan isterimu surga ini, dan makanlah (kamu berdua) makanan-makanannya yang banyak lagi baik, di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah (kamu berdua) dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zhalim." (Al Baqarah: 35)
Dengan demikian maka wanita bukanlah laki-laki, karena wanita itu menyempurnakan laki-laki, demikian pula sebaliknya. Sesuatu tidak bisa sempurna secara sendiri, karena itu Al Qur'an mengatakan, "Bukanlah laki-laki itu seperti wanita." (Ali 'Imran: 36). Sebagaimana arus positif itu bukanlah arus negatif, demikian juga sebaliknya.
Akan tetapi betapapun demikian wanita tidak diciptakan untuk menjadi pesaing laki-laki, tidak pula untuk menjadi musuhnya, tetapi "Ba'dbukum min ba'dh" sebagian kamu merupakan bagian dari sebagian yang lainnya. Allah SWT berfirman, "Dan Allah telah menciptakan untuk kamu dari dirimu isteri-isteri." (An-Nahl: 72)
Hikmah Allah telah menetapkan, di mana pembentukan fisik dan kejiwaan wanita itu memiliki unsur yang menarik kaum laki-laki dan memiliki daya tarik tersendiri.
Allah SWT telah membekali pada masing-masing dari laki-laki dan wanita syahwat dan keinginan yang kuat secara fithrah yang membuat saling tertarik dan bertemu, hingga kehidupan ini terus berjalan dan jenis manusia dapat terpelihara.
Karena itulah Islam menolak setiap aturan yang bertentangan dengan fithrah dan merusaknya, seperti sistem kependetaan (yang tidak boleh menikah selamanya). Akan tetapi Islam juga melarang setiap tindakan untuk mempergunakan potensi ini selain yang disyari'atkan oleh Allah dan yang diridhai-Nya yaitu lewat jalan pernikahan yang itu merupakan asas dalam berkeluarga. Oleh karena itu Islam mengharamkan perzinaan, sebagaimana itu diharamkan oleh seluruh agama samawi, sebagaimana Islam juga melarang untuk berbuat keji, semua itu untuk memelihara laki-laki dan wanita dari hal-hal yang membangkitkan fitnah dan kerusakan.
Berdasarkan pandangan kita terhadap fithrah wanita dan kewajiban yang harus dilakukan dalam hubungannya dengan kaum laki-laki, maka Islam memperlakukan wanita secara terhormat baik dalam aturannya, arahan-arahannya dan hukum-hukumnya.
Sesungguhnya Islam telah memelihara kewanitaan wanita secara fithrah dan mengakui keberadaannya (eksistensinya). Maka Islam tidak merendahkannya dan tidak menghinanya, akan tetapi Islam berusaha untuk menentang dan menolak segala usaha yang menghina dan merendahkan harkat wanita dan memeliharanya dari serigala-serigala manusia yang siap menyergap kaum hawwa untuk dinikmati dagingnya dan dibuang tulangnya.
Di sini dapat kita simpulkan bagaimana sikap Islam terhadap kewanitaan wanita sebagai berikut:
Pertama, Islam telah memelihara kewanitaannya, sehingga tetap menjadi sumber kasih sayang, kelembutan dan kecantikan. Oleh karena itu Islam menghalalkan baginya sesuatu yang diharamkan bagi laki-laki yang itu sesuai dengan tabiat kewanitaannya dan fungsinya. Seperti memakai emas, sutera murni, berdasarkan hadits Rasulullah:
"Sesungguhrya keduanya ini (emas dan sutera) telah diharamkan bagi laki-laki dari ummatku, dihalalkan bagi wanitanya." (HR. Ibnu Majah)
Sebagaimana juga diharamkan bagi kaum wanita segala sesuatu yang menghilangkan simbul kewanitaannya, seperti menyerupai laki-laki dalam berpakaian, gerakan, perilaku, dan lainnya. Maka Islam melarang wanita memakai pakaian laki-laki, sebagaimana melarang laki-laki memakai pakaian wanita, dan Allah melaknati para wanita yang menyerupai laki-laki, sebagaimana melaknati laki-laki yang menyerupai wanita. Rasulullah SAW bersabda:
"Tiga orang tidak akan masuk surga dan tidak diperhatikan oleh Allah pada hari kiamat nanti: Orang yang durhaka terhadap kedua orang tuannya, Wanita yang mirip dengan Iaki-laki dan dayyuts (suarni yang membiarkan orang lain memasuki rumah isterinya)." (HR. Ahmad)
Kedua, Islam senantiasa memelihara kewanitaan wanita dan memelihara mereka dari kelemahannya. Sehingga mereka selamanya di bawah lindungan laki-laki, ditanggung nafkahnya, tercukupi kebutuhannya, ia berada di bawah asuhan ayahnya atau suaminya atau anak-anaknya dan saudaranya. Wajib bagi mereka (laki-laki) untuk menafkahinya sesuai dengan syari'at Islam, sehingga wanita tidak sampai memaksakan dirinya untuk ikut tenggelam dalam lautan kehidupan dan bertarung dengan kehidupan itu, bercampur dengan kaum laki-laki.
Ketiga, Islam memelihara akhlaq dan perasaan malunya serta berusaha untuk memelihara popularitas dan kemuliaannya serta menjaga kebersihannya dari kekhawatiran-kekhawatiran buruk dan suara-suara sumbang.
Untuk itu Islam mewajibkan bagi wanita untuk:
Pertama. Memelihara pandangan matanya dan memelihara kesuciannya, sebagaimana firman Allah SWT,
"Katakanlah kepada wanita yang beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya...'" (An Nur: 31)
Kedua. Menutup aurat dan perhiasannya dengan baik, tidak berpakaian terlalu sempit dan menyolok. Allah SWT berfirman,
"Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya, dan hendaklah mereka menutupkan kain jilbabnya ke dadanya." (An Nur: 31)
Dalam ayat ini kata-kata, "maa zhahara minhaa" diartikan celak mata, cincin, muka dan kedua telapak tangan. Ada yang menambah "dua telapak kaki."
Ketiga. Hendaknya jangan menampakkan perhiasannya yang tersamar, seperti rambut, leher, kedua lengan dan kedua betis kecuali kepada suaminya atau muhrimnya. Allah SWT berfirman,
"Dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. . ." (An-Nur: 31)
Keempat. Hendaklah sopan dalam berjalan dan berbicara, Allah berfirman,
"Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan ... " (An-Nur: 31)
"Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit di dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik." (Al Ahzab: 32)
Dengan demikian bukan berarti dilarang berbicara dan suara itu sendiri bukanlah 'aurat. Tetapi ia diperintahkan untuk berbicara dengan baik.
Kelima. Hendaklah ia menjauhi segala sesuatu yang menarik perhatian laki-laki dari dirinya seperti berdandan (tabarruj) dengan dandanan ala jahiliyah. Karena ini bukanlah akhlaq seorang wanita yang bersih. Rasulullah SAW bersabda:
"Siapa saja wanita yang memakai wangi-wangian, kemudian keluar dari rumahnya agar dicium baunya oleh orang maka ia berzina." (HR. Abu Dawud)
Maksudnya seakan ia berbuat zina, meskipun ia tidak berbuat demikian, maka wajib atas wanita menjauhi perilaku seperti itu.
Keenam. Wanita dilarang berduaan dengan laki-laki lain yang bukan suaminya dan bukan muhrimnya, hal itu untuk memelihara dirinya dan diri orang lain dari bisikan-bisikan dosa dan memelihara dirinya dari omongan-omongan bohong. Nabi SAW bersabda:
"Janganlah sekali-kali seseorang itu bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali dengan muhrimnya" (HR. Muttafaqun 'Alaih)
Ketujuh. Jangan berikhtilath dengan kaum laki-laki lain kecuali karena kebutuhan yang terpaksa dan kemaslahatan yang dibenarkan dan dilakukan dengan seperlunya, seperti shalat di masjid, menuntut ilmu, berta'awun untuk kebaikan dan ketaqwaan, yang tidak terlarang bagi wanita itu untuk ikut serta dalam memberi pelayanan kepada masyarakat, tetapi jangan lupa batas-batas syari'at dalam bertemu dengan laki-laki.
Sesungguhnya Islam dengan hukam-hukum ini berusaha memelihara kewanitaan wanita dari taring orang-orang yang siap menerkam di satu sisi, dan memelihara perasaan malunya dan kesuciannya dengan menjauhi faktor-faktor yang menyelewengkan dan menyesatkan di sisi lainnya. Serta menjaga kehormatannya dari mulut orang-orang yang membuat kepalsuan. Dengan ini semuanya Islam telah memelihara jiwa dan perasaannya dari keresahan dan rekanan, serta goncangan-goncangan jiwa sebagai akibat dari khayalan yang berlebihan dan kesibukan hati serta terusiknya perasaan di tengah-tengah pengaruh-pengaruh yang menggiurkan.
Islam dengan hukum dan syari'atnya juga memelihara kaum laki-laki dari faktor-faktor yang menyesatkan dan memusingkan, juga memelihara masyarakat seluruhnya dari faktor-faktor kehancuran dan dekadensi moral.

Ikhtilath yang diperbolehkan

Ada beberapa istilah yang masuk di dalam kamus modern kita yang maknanya belum kita ketahui sebelumnya, di antaranya adalah kata "lkhtilath" antara laki-laki dan wanita. Karena wanita pada masa kenabian dan masa sahabat dan tabi'in juga bertemu dengan laki-laki, demikian jaga laki-laki juga bertemu dengan kaum wanita di berbagai acara yang beragam, baik itu yang bersifat agamis maupun masalah keduniaan. Hal itu tidak dilarang secara mutlak, bahkan diperbolehkan apabila diketahui secara jelas sebab dan alasannya dan terpenuhi kriterianya, dan mereka tidak menamakan itu sebagai ikhtilath.
Kemudian istilah ini menjadi populer dewasa ini, saya sendiri tidak tahu sejak kapan pemakaian itu dimulai dengan maknanya yang asing bagi perasaan Muslim dan Muslimah. Karena mencampur sesuatu dengan sesuatu yang lain berarti melarut seperti bercampurnya garam atau gula dengan air.
Yang penting di sini kita tegaskan bahwa tidak semua ikhtilath itu dilarang sebagaimana itu difahami oleh da'i-da'i yang ekstrim dan sempit pemikirannya. Dan tidak pula setiap ikhtilath itu diperbolehkan, sebagaimana diikuti oleh da'i-da'i sekuler yang suka mengekor Barat.
Permasalahan ini telah saya bahas dan saya jawab bersama dengan beberapa persoalan lainnya di dalam kitab saya "Fatawa Mu'ashirah" juz dua. Di antaranya hal-hal yang berkaitan dengan ikhtilath, mengucapkan salam kepada wanita, salaman, laki-laki menjenguk wanita yang sakit atau sebaliknya, dan lain-lain.
Yang ingin saya ingatkan di sini adalah sesungguhnya kewajiban kita adalah hendaknya kita beriltizam terhadap sebaik-baik petunjuk, itulah petunjuk Nabi SAW dan petunjuk Khulafaur Rasyidin dan para sahabatnya, jauh dari pemahaman Barat yang cenderung menghalalkan (segala sesuatu) dan cara orang timur yang ekstrim.
Barangsiapa yang merenungkan petunjuk Nabi SAW maka ia mengetahui bahwa wanita bukanlah orang yang dipenjara, bukan pula orang yang terisolir sebagaimana hal itu pernah terjadi pada masa-masa kemunduran ummat Islam.
Wanita dahulu ikut datang berjamaah dan shalat Jum'at di masjid Rasulullah SAW. Nabi SAW memerintahkan kepada mereka agar mengambil shaf-shaf yang terakhir yaitu di belakang shaf laki-laki. Semakin shaf itu lebih dekat ke bagian belakang maka semakin mulia karena takut kalau aurat wanita itu nampak di hadapan kaum laki-laki dan mayoritas mereka para sahabat dahulu tidak mengenal celana, dan tidak ada dinding atau kayu yang membatasi antara kaum wanita dengan pria.
Mereka pada awalnya, laki-laki dan wanita masuk pintu mana saja yang mereka sepakati, sehingga terkadang terjadi bersimpangan antara yang masuk dan yang keluar. Kemudian Nabi SAW bersabda, "Alangkah baiknya jika pintu ini kalian khususkan untuk wanita." Akhirnya mereka mengkhususkan pintu itu untuk kaum wanita sehingga sampai sekarang dikenal dengan nama "Babun Nisa'" (pintu khusus wanita).
Kaum wanita di masa kenabian ikut datang shalat jum'at dan mendengarkan khutbah, hingga ada salah seorang di antara mereka yang hafal surat "Qoof" dari lisan Rasulullah SAW karena seringnya ia mendengarkan dari mimbar jum'at.
Wanita dahulu juga ikut datang melakukan dua shalat 'Ied, dan ikut serta dalam festifal Islami yang menghimpun orang-orang dewasa dan anak-anak kecil, laki-laki dan wanita di tanah terbuka, mereka bertahlil dan bertakbir bersama.
Imam Muslim meriwayatkan dari Ummi 'Athiyah, ia berkata, "Kita (kaum wanita) dahulu diperintahkan untuk keluar pada 'ledain (dua hari raya), wanita yang dipingit dan yang masih gadis."
Dalam riwayat lain ia berkata, "Rasulullah SAW memerintahkan kepada kita untuk menyuruh mereka keluar pada ledul Fithri dan ledul Adha, baik wanita-wanita baligh, wanita yang sudah datang bulan maupun yang dipingit. Adapun orang yang haid maka dijauhkan dari tempat shalat, mereka juga menghadiri kebaikan-kebaikan dan undangan kaum Muslimin," aku bertanya, "Wahai Rasulullah, ada di antara kami yang tidak mempunyai jilbab." Nabi bersabda, "Hendaknya saudaranya mengenakan jilbabnya kepadanya," artinya meminjamkannya.
Inilah sunnah yang dimatikan oleh ummat Islam di sebagian besar negara-negara atau bahkan seluruhnya, kecuali yang akhir-akhir ini dilaksanakan oleh para pemuda shahwah Islamiyah yang berupaya menghidupkan sebagian sunnah yang ditinggalkan. Seperti sunnah I'tikaf pada sepuIuh hari terakhir di bulan Ramadhan dan sunnahnya wanita menghadiri shalat 'led.
Wanita dahulu ikut menghadiri majelis-majelis ilmu bersama kaum laki-laki di sisi Nabi SAW dan mereka juga bertanya tentang masalah agama mereka yang saat ini kebanyakan wanita merasa malu. Sehingga 'Aisyah RA sempat memuji wanita-wanita Anshar, bahwa mereka itu tidak malu-malu untuk bertanya masalah agama, sehingga mereka bertanya tentang janabat, mimpi, mandi besar, haid, istihadhah dan yang lainnya.
Mereka bahkan tidak puas mengaji bersama-sama kaum laki-laki sehingga meminta secara khusus kepada Rasulullah SAW untuk diberikan kesempatan di hari tertentu khusus untuk mereka. Mereka mengatakan "Wahai Rasulullah, kaum laki-laki telah mengalahkan kami untuk (mengaji kepadamu), oleh karena itu khususkanlah hari untuk kami," maka Nabi SAW menjanjikan mereka hari tertentu untuk memberi nasihat kepada mereka." (HR. Bukhari)
Aktivitas wanita juga sampai pada keikutsertaan mereka dalam peperangan dan jihad dalam memberikan pelayanan kepada para tentara dan mujahidin dengan kemampuan yang mereka miliki dengan baik. Berupa perawatan dan pertolongan pertama dan merawat orang-orang yang terluka, selain juga memberikan pelayanan-pelayanan lainnya, seperti memasak makanan dan minuman dan mempersiapkan apa-apa yang diperlukan oleh para mujahidin.
Dari Ummi 'Athiyah, ia berkata, "Saya pernah berperang bersama Rasulullah SAW sebanyak tujuh peperangan, saya membelakangi mereka dalam keberangkatan mereka, maka saya membuat untuk mereka makanan dan mengobati orang-orang yang terluka, dan merawat orang-orang yang sakit." (HR. Muslim)
Imam Muslim meriwayatkan dari Anas, bahwa sesungguhnya 'Aisyah dan Ummu Sulaim pada perang Uhud juga ikut berperang aktif membawa qirbah (tempat minuman) di atas punggungrya, kernudian menuangkan air ke mulut orang-orang (mujahidin), kemudian mereka berdua kernbali memenuhi qirbah itu. (HR. Muslim)
Keberadaan Aisyah di sini dalam usia belasan tahun menolak orang-orang yang mengatakan bahwa keikutsertaan wanita dalam peperangan itu hanya boleh untuk wanita-wanita yang tua usianya. Pendapat ini tidak bisa diterima, sebab apa artinya nenek-nenek dalam suasana peperangan yang menuntut kekuatan fisik dan perasaan sekaligus.
Imam Ahmad meriwayatkan bahwa ada enam wanita dari wanita-wanitanya orang-orang yang beriman dahulu ikut bersama tentara mengepung Khaibar. Mereka ikut memegang anak panah, memberi minum dan mengobati orang-orang yang terluka, bersenandung dengan syair-syair dan membantu di jalan Allah. Nabi SAW telah memberi mereka ghanimah.
Bahkan ada riwayat shahih yang menjelaskan bahwa sebagian isteri-isteri sahabat ikut serta dalam sebagian peperangan Islam dengan membawa senjata ketika mereka diberi kesempatan untuk itu. Sebagaimana itu dilakukan oleh Ummu 'Imarah Nasibah binti Ka'b, pada hari perang Uhud, hingga Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh posisi dia lebih baik daripada posisi fulan dan fulan."
Demikian juga yang dilakukan oleh Ummu Sulaim yang membawa clurit pada hari perang Hunain ia merobek perut musuh yang mendekat kepadanya.
Imam Muslim juga meriwayatkan dari Anas (putra Ummu Sulaim) bahwa Ummu Sulaim pernah membawa cIurit pada waktu perang Hunain, maka suaminya yang bernama Abu Talhah melihatnya dan berkata kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, ini Ummu Sulaim, ia membawa clurit." Maka Nabi SAW bertanya kepada Ummu Sulaim, "Untuk apa clurit itu?" Ummu Sulaim menjawab, "Aku ambil karena jika ada salah seorang dari kaum musyrikin mendekati aku maka aku akan merobek perutnya dengan cIurit itu, " kemudian Rasulullah SAW tersenyum." (HR. Muslim)
Demikian juga Imam Bukhari membuat bab tersendiri di dalam shahihnya mengenai peperangan kaum wanita.
Keinginan wanita muslimah di masa kenabian dan sahabat dahulu tidak hanya terhenti pada keikutsertaan mereka dalam peperangan sampai wilayah sekitarnya seperti Khaibar dan Hunain. Akan tetapi keinginan mereka sampai menyeberangi lautan dan ikut andil di dalam menaklukkan negara-negara yang jauh untuk menyampaikan risalah Islam.
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas, bahwa Rasulullah SAW ber-qailulah (tidur siang) di dekat Ummi Haram Binti Milhan (bibi Anas) pada suatu hari. Kemudian Nabi bangun dan tertawa, maka Ummu Haram bertanya, "Apa yang membuat engkau tertawa wahai Rasulullah?" Nabi bersabda, "Ada manusia dari ummatku yang ditawarkan kepadaku untuk berperang di jalan Allah, mereka menyeberangi lautan seperti raja di atas singgasananya." Ummu Haram berkata, "Wahai Rasulullah, doakan kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk mereka," maka Nabi SAW mendoakan untuknya . (HR. Muslim)
Dan ternyata Ummu Haram ikut menyeberangi lautan pada masa Utsman bersama suaminya 'Ubadah Ibnu Shamit ke Qubrush (Siprus). Akhirnya ia diseruduk oleh kudanya di sana dan akhirnya wafat dan dikubur di tempat itu.
Dalam kehidupan sosial, wanita ikut serta dalam mendakwahkan kebaikan, memerintahkan yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. Sebagaimana firman Allah SWT:
"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma 'ruf, mencegah dari yang munkar." (At-Taubah: 71)
Di antara peristiwa yang masyhur adalah bantahan salah seorang muslimat kepada Umar di masjid, dalam masalah mahar (maskawin), dan kesiapan Umar untuk mengikuti pendapatnya secara terang-terangan. Umar berkata, "Wanita itu benar dan Umar salah." Kisah ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya di surat An-Nisa'. Ibnu Katsir berkata, "Isnadnya jayyid."
Ada seorang wanita yang ditunjuk (ditetapkan) oleh Umar ketika beliau menjadi khalifah untuk berdakwah di pasar, yaitu Syifa' binti Abdullah Al 'Adawiyah.
Siapa yang merenungkan Al Qur'an Al Karim dan pembicaraannya mengenai wanita dalam berbagai masa dan dalam kehidupan para Nabi dan Rasul, maka tak akan terasa adanya tirai besi yang dibuat oleh sebagian manusia antara laki-laki dan wanita.
Maka kita jumpai Musa ketika masih muda dan kuat berbicara dengan dua gadis putri Syaikh Kabir (Nabi Syu'aib) dan bertanya kepada keduanya, dan kedua gadis itu pun menjawab pertanyaan Musa tanpa perasaan dosa dan berat. Musa membantunya dengan penuh kesopanan dan hormat. Setelah peristiwa itu, salah satu dari keduanya datang sebagai utusan dari ayahnya untuk mengundang Musa agar pergi bersamanya menuju ayahnya. Kemudian salah satu dari keduanya usul kepada ayahnya setelah itu agar ayahnya menjadikan Musa sebagai pelayan (pembantu) ayahnya karena melihat kekuatan dan kejujuran Musa. Al Qur'an menjelaskan:
"Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang rnemberi minum (meminumkan) ternaknya, dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menambat (ternaknya). Musa berkata, "Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?" Kedua wanita itu menjawab, "Kami tidak dapat meminum (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut usianya." Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata, "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami." Maka tatkala Musa mendatangi bapaknnya (Syu'aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya). Syu'aib berkata, "Janganlah kamu takut, kamu telah selamat dari orang-orang yang zhalim itu." Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, "Hai bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya." (Al Qashas: 23-26)
Di dalam kisah Maryam kita dapatkan Zakaria masuk ke mihrabnya dan bertanya kepadanya mengenai rizki yang dia jumpai di sisi Maryam.
"Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria bertanya, "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab, "Makanan itu dari sisi Allah." Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakinya tanpa hisab." (Ali 'Imran: 37)
Di dalam kisah Ratu Saba' (Bilqis) kita lihat ia mengumpulkan kaumnya untuk diajak bermusyawarah menanggapi surat dari Sulaiman.
"Berkata dia (Bilqis), "Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)." Mereka menjawab, "Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan juga memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan karnu perintahkan. Dia berkata, "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang rnulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat...." (An Naml: 32-34)
Demikian juga Bilqis berdialog dengan Sulaiman AS dan Sulaiman pun berbicara dengannya. Allah berfirman:
"Dan ketika Bilqis datang, ditanyakanlah kepadanya, "Serupa inikah singgasanamu?" Dia menjawab, "Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri." Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena Sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir. Dikatakan kepadanya, "Masuklah ke dalam istana." Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapnya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman, "Sungguh ia adalah istana licin terbuat dari kaca." Berkatalah Bilqis, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zhalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam." (An-Naml: 42-44)
Tidak bisa dikatakan bahwa sesungguhnya ini syari'at ummat sebelum kita, maka tidak wajib bagi kita. Karena sesungguhnya Al Qur'an tidak menyebutkan hal itu kepada kita kecuali untuk petunjuk, peringatan dan ibrah bagi orang-orang yang berakal. Oleh karena itu kesimpulan yang benar adalah, "Sesungguhnya syari'at ummat sebelum kita yang disebutkan di dalam Al Qur'an dan As-Sunnah itu juga syari'at untuk kita selama tidak ada dari syari'at kita yang menghapusnya." Allah SWT berfirman:
"Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Alah, maka ikutilah petunjuk mereka...." (Al An'am: 90)
Sesungguhnya menahan wanita di rumah dan membiarkannya tetap berada di antara empat dinding, tidak boleh keluar dari rumah--sebagaimana dijelaskan oleh Al Qur'an dalam salah satu tahapan dari tahapan tasyri' sebelum nash atas hukum zina yang diketahui--itu merupakan sanksi yang berat bagi orang yang berbuat zina dari wanita-wanita kaum Muslimin. Allah SWT berfirman:
"Dan terhadap para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi di antara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadannya." (An-Nisa': 15)
Dan sungguh Allah telah memberi jalan keluar setelah itu yaitu dengan ditetapkannya hukum "Had" yaitu hukuman yang ditentukan di dalam syari'at sebagai hak Allah SWT. Yaitu cambuk bagi orang yang belum menikah dan rajam bagi orang yang sudah menikah.
Bagaimana mungkin bisa diterima dalam logika Al Qur'an dan Islam bahwa pengurungan wanita di rumah merupakan ciri khas dari seorang wanita Muslimah yang komitmen dan yang terpelihara. Kalau memang demikian berarti kita telah memberikan hukuman kepada mereka dengan hukuman yang berat dan lama, padahal ia tidak berbuat dosa.
Kesimpulannya, bahwa pertemuan antara laki-laki dan kaum wanita pada dasarnya diperbolehkan dan tidak dilarang, bahkan kadang-kadang diperlukan jika tujuannya adalah kerja sama dalam mencapai tujuan yang mulia. Seperti dalam majelis ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, atau proyek kebajikan, atau jihad yang diharuskan dan lain sebagainya yang menuntut potensi yang prima dari dua jenis manusia, serta kerja sama antara keduanya di dalam merencanakan, mengarahkan dan melaksanakan.

Syubuhat dan Pendukung Kebebasan Ikhtilath

lnilah sikap Islam, dan itulah pandangannya mengenai hubungan laki-laki dengan wanita. Pertemuan keduanya untuk berbuat baik dan ma'ruf, inilah yang kita istilahkan "Ikhtilath Masyru'."
Akan tetapi ghazwul fikri telah mencetak di negara kita suatu kaum yang telinga mereka 'budek' dari hukum Allah dan Rasul-Nya dan mengajak kita untuk melepaskan wanita secara bebas di tangan orang lain sehingga kokoh eksistensinya, nampak menonjol syakhsiyahnya dan dapat dinikmati kewanitaannya.
Ia bergaul dengan laki-laki tanpa ikatan dan secara terang-terangan. la pergi sendirian bersamanya dan menemaninya di gedung bioskop atau begadang bersamanya sampai tengah malam, berdansa bersamanya dengan musik-musik, dan sebagainya.
Mereka yang mengaku dirinya sebagai malaikat yang suci itu mengatakan, "Janganlah kalian takut kepada wanita dan jangan pula khawatir kepada laki-laki dengan hubungan yang 'terhormat' ini dan persahabatan yang bebas serta pertemuan yang mulia, sesungguhnya jeritan syahwat karena seringnya bertemu itu akan hilang dan kencangnya akan kendor serta sinarnya akan padam, dan masing-masing dari laki-laki dan wanita merasakan nikmatnya sekedar bertemu dan menikmati pandangan dan berbicara, dan jika perlu maka dengan berdansa, karena itu merupakan salah satu bentuk dari ungkapan seni yang 'bernilai tinggi'."

Bantahan Terhadap Pendukung Kebebasan Ikhtilath

Kita menolak semua pengakuan tersebut di atas dari dua sisi sebagai berikut:
1. Sesungguhnya kita adalah orang Islam sebelum itu semua. Kita tidak ingin menjual agama kita karena mengikuti keinginan orang-orang Barat atau timur. Dalam hal ini agama kita (Islam) mengharamkan kepada kita ikhtilath (pergaulan bebas) seperti itu, yaitu dengan adanya tabarruj, munculnya fitnah dan terbukanya peluang untuk menyeleweng. Allah SWT berfirman,
"Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari'at (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syari'at itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikit pun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertaqwa" (Al Jaatsiyah: 18-19)
2. Sesungguhnya Barat sendiri--yang selama ini diikuti--saat ini merasakan sakit akibat dari kebebasan yang terlepas dari nilai-nilai agama, yang merusak putera puteri mereka dan telah mengancam peradabannya menuju kehancuran dan porak poranda.
Di Amerika dan Swedia dan negara-negara lainnya dari negara-negara penganut seks bebas telah menetapkan hasil statistik bahwa kepuasan syahwat tidak bisa padam (dipenuhi) hanya dengan kebebasan bertemu dan berbicara, tidak pula dengan apa yang terjadi setelah pertemuan dan berbicara, tetapi manusia semakin lama semakin haus.
Kita harus meneliti apa yang terjadi akibat kebebasan dan kemajuan, terlepas dari beberapa gelintir keunggulan yang dimiliki masyarakat Barat modern saat ini.

Pengaruh Pergaulan Bebas di Masyarakat Barat

Sesungguhnya jumlah dan peristiwa serta data yang diperoleh dari hasil statistik itulah yang berbicara dan menjelaskan masalah tersebut. Sungguh telah nampak pengaruh kebebasan seks yang sampai saat ini masih menjadi problem bagi laki-laki dan wanita sebagai berikut:

1. Dekadensi Moral

Kendornya nilai-nilai akhlaq dan dominasi syahwat, menangnya sifat kebinatangan atas sifat kemanusiaan, hilangnya rasa malu dan pemeliharaan antara kaum wanita dan kaum pria dan ketidaktenangan masyarakat, seluruhnya disebabkan karena pergaulan bebas.
Seorang mantan presiden AS bernama Kennedy mengatakan dalam wawancaranya dengan wartawan pada tahun 1962, "Sesungguhnya pemuda Amerika telah larut, berfoya-foya, sudah terlepas dari ikatan, dan tenggelam dalam syahwat. Di antara tujuh pemuda yang mendaftar untuk menjadi tentara didapatkan dari tujuh itu enam pemuda yang tidak sehat, disebabkan mereka terjerumus dalam syahwat... dan saya peringatkan bahwa pemuda seperti itu merupakan ancaman besar bagi masa depan Amerika."
Di dalam buku yang disusun oleh direktur pusat penelitian di Universitas "Harvard" dengan thema "Revolusi Seks" penulis menegaskan bahwa Amerika telah sampai pada bahaya besar dalam kerusakan seks. Dan Amerika sedang menuju pada kondisi yang sama yang menyebabkan jatuhnya dua peradaban Ighriqiyah dan Rumawi pada masa lalu. Ia mengatakan, "Sesungguhnya kita sudah dikepung dari seluruh arah dengan aliran ganas dari seks yang menenggelamkan seluruh kamar dari struktur peradaban kita dan seluruh bidang dari kehidupan kita secara menyeluruh."
Meskipun orang-orang Komunis sedikit sekali berbicara mengenai masalah-masalah seks, meskipun mereka tidak mengizinkan kepada mass media untuk meliputnya, tetapi pada tahun 1926 telah keluar pernyataan dari presiden Rusia "Khrusyuf" bahwa para pemuda (Rusia) telah menyimpang dan dirusak oleh kemewahan, ia juga memperingatkan bahwa telah dibuka di Serbia pos-pos militer baru untuk menghabisi pemuda-pemuda yang menyeleweng, karena itu merupakan bahaya atas masa depan Rusia.

2. Banyaknya Anak-anak yang Dilahirkan Secara Tidak Sah

lni merupakan fenomena umum yang disebabkan terlepasnya keinginan syahwat dan larutnya batas-batas antara para pemuda dan pemudi. Sebagian lembaga di Amerika membuat statistik untuk orang-orang yang hamil di luar pernikahan di kalangan pelajar SMA, ternyata jumlahnya sangat mengerikan.
Mari kita perhatikan data statistik terbaru dalam masalah ini: bahwa sepertiga kelahiran anak tahun 1983 di New York adalah anak-anak yang tidak sah, artinya mereka dilahirkan diluar pernikahan. Mayoritas mereka dilahirkan oleh gadis berusia 19 tahun ke bawah, dan jumlah mereka adalah 112.353 anak atau 37 % dari jumlah anak-anak yang dilahirkan di New Yorkl!."30)

3. Banyaknya Gadis yang Tua belum menikah dan Pemuda yang membujang

Sesungguhnya adanya sarana yang mudah untuk memenuhi syahwat tanpa memikul beban pernikahan dan membina rumah tangga menjadikan kebanyakan para pemuda memilih cara yang termudah dan menghabiskan masa mudanya untuk ini dan itu. Menikmati lezatnya hubungan seks yang bervariasi, tanpa terikat dengan kehidupan monoton yang berulang kali sebagaimana yang mereka kira, tanpa menanggung beban tanggung jawab berkeluarga, dan sebagainya.
Di antara dampak dari itu semua adalah banyaknya para gadis-gadis muda yang menghabiskan masa mudanya tanpa suami yang tinggal bersamanya kecuali laki-laki yang bemain-main dan menjadikannya sebagai alat hiburan yang diharamkan. Selain itu juga banyak dari para pemuda yang membujang kehilangan ikatan kehidupan berumah tangga, sebagaimana hal itu dibuktikan dalam data statistik. Telah dinyatakan oleh direktur urusan statistik Amerika pada tanggal 22 Dzul Qa'idah 1402 bersamaan dengan 10 September 1982 M, bahwa untuk pertama kalinya terjadi sejak permulaan abad ini sebagian besar penduduk kota San Fransisco adalah para pembujang.
Brosh Syambman menjelaskan dalam muktamar pers yang diadakan oleh lembaga sosial Amerika bahwa 53% penduduk San Fransisco tidak menikah. Dan ia menjelaskan tentang keyakinannya bahwa jumlah tersebut mungkin menjadi suatu isyarat atas contoh keluarga yang paling menyedihkan.
Syambman menambahkan bahwa sesungguhnya perubahan-perubahan sosial ini sesuai untuk mewujudkan kemakmuran di sebuah kota yang jumlah penduduknya terdiri dari pemuda antara 25-34 tahun dengan perkiraan 40,4 % selama 10 tahun terakhir.
Syambman juga berkata, "Sesungguhnya jumlah tersebut tidak termasuk jumlah orang-orang yang terkena musibah dengan kelainan seks yaitu orang-orang yang tinggal di kota dan orang-orang yang mewakili 15 % dari penduduk.
Tidak heran setelah ini semua, jika kita membaca di surat kabar seperti di bawah ini:
"Para kaum wanita Swedia keluar untuk melakukan demonstrasi umum yang meliputi seluruh Swedia dengan alasan menuntut adanya kebebasan seks di Swedia. Demo ini diikuti oleh 100.000 wanita, mereka akan mengajukan surat permohonan yang ditandatangani secara resmi oleh pemerintah, di dalam surat itu mengumumkan atas pembelaan terhadap runtuhnya nilai-nilai akhlaq."
Sesungguhnya fithrah wanita dan kecenderungannya untuk memperoleh kepentingannya dan masa depannya itulah yang mendorong mayoritas dari wanita itu untuk berdemonstrasi dan menggugat.

4. Banyaknya terjadi perceraian dan hancurnya rumah-tangga dengan sebab-sebab yang sangat sederhana

Jika selain pernikahan itu ada kendala-kendala, maka sesungguhnya setelah terjadi pernikahan ini, tidak terjamin kekekalannya oleh karena rumah tangga seperti itu cepat hancur dan ikatannya bisa pudar hanya karena sebab-sebab yang sangat sederhana.
Di Amerika, jumlah perceraian dari tahun ke tahun semakin bertambah banyak sampai batas yang mengejutkan, dan ini juga termasuk di sebagian besar negara-negara Barat lainnya.

5. Tersebarnya penyakit-penyakit yang membahayakan

Tersebarnya penyakit-penyakit misterius yang menyerang saraf, akal dan jiwa dan banyaknya stress serta goncangan jiwa yang memakan korban beratus-ratus ribu manusia.
Di antara penyakit yang paling berbahaya adalah penyakit yang akhir-akhir ini ditemukan yaitu yang dikenal dengan penyakit "AIDS" yang menghilangkan kekebalan tubuh. Penyakit ini mengancam berjuta-juta ummat manusia di Eropa dan Amerika dengan akibat yang sangat berbahaya. Sebagaimana diungkapkan oleh keputusan dokter dan statistik secara resmi yang diedarkan oleh beberapa majalah dan surat kabar di seluruh dunia.
Hal tersebut sesuai dengan yang diperingatkan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya yang mulia, "Tidak muncul suatu perbuatan keji di suatu kaum pun, hingga mereka mengumumkannya (menjadikan tabiat umum) kecuali akan tersebar di kalangan mereka penyakit tha'un (wabah) dan penyakit-penyakit yang belum pernah terjadi pada orang-orang sebelumnya. (HR. Ibnu Majah)
Ini belum termasuk penyakit-penyakit stress dan kejiwann yang tersebar di tengah-tengah mereka mirip seperti tersebarnya api di daun yang kering, dan pasien-pasiennya memenuhi rumah-rumah sakit.
Apakah para penyeru pergaulan bebas itu menginginkan untuk memindahkan penyakit-penyakit itu pada masyarakat kita, padahal Allah telah memberi kecukupan kepada kita untuk menghindarkan keburukannya? Semoga Allah melindungi kita dari penyakit-penyakit itu. Ataukah jumlah besar korban dan data statistik itu telah hilang dari ingatan mereka?
Farwid dan pengikutnya dari ulama jiwa mengira bahwa menghilangkan ikatan-ikatan tradisi dari kebutuhan biologis itu dapat menenangkan jiwa (perasaan) dan menghilangkan stress.
Itulah ikatan-ikatan yang dihilangkan, itulah keinginan-keinginan syahwat yang dilepaskan, maka hal itu tidak menambah jiwa kecuali semakin stress dan kebingungan, dan stress itu telah menjadi penyakit masa kini di sana, sedangkan beribu-ribu rumah sakit jiwa tidak berguna bagi mereka.

WANITA SEBAGAI IBU

Sejarah tidak pernah mengenal adanya agama atau sistem yang menghargai keberadaan wanita sebagai ibu yang lebih mulia daripada Islam.
Sungguh Islam telah menegaskan wasiat (pesan penting) terhadap wanita dan meletakkan wasiat itu setelah wasiat untuk bertauhid kepada Allah dan beribadah kepada-Nya. Islam juga menjadikan berbuat baik kepada wanita itu termasuk sendi-sendi kemuliaan, sebagaimana telah menjadikan hak seorang ibu itu lebih kuat daripada hak seorang ayah, karena beban yang amat berat ia rasakan ketika hamil, menyusui, melahirkan dan mendidik. Inilah yang ditegaskan oleh Al Qur'an dengan diulang-ulang lebih dari satu surat agar benar-benar difahami oleh kita anak manusia. Sebagaimana firman Allah SWT:
"Dan Kami wasiatkan (perintahkan) kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnnya dalam keadaan lemah yang betambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hannya kepada-Kulah kembalimu." (Luqman: 14)
"Kmi wasiatkan (perintahkan) kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah (pula). Mengandungnnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan...." (Al Ahqaf: 15)
Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW lalu bertanya,
"Siapakah yang paling berhak saya pergauli dengan baik?" Nabi bersabda, "Ibumu," orang itu bertanya, "kemudian siapa lagi?" Nabi bersabda, "Ibumu," orang itu bertanya, "Kemudian siapa lagi?" Nabi bersabda, "Ibumu, - orang itu bertanya, "Kemudian siapa lagi?" Nabi bersabda, "Ayahmu. (HR. Bukhan Muslim)
Al Bazzar meriwayatkan, ada seorang lelaki sedang thawaf dengan menggendong ibunya, maka lelaki itu bertanya kepada Nabi SAW "Apakah (dengan ini) saya telah melaksanakan kewajiban saya kepadanya?" Nabi menjawab, "Tidak, tidak sebanding dengan satu kali melahirkan."
Berbuat baik kepada ibu berarti baik dalam mempergauli dan menghormatinya, merasa rendah di hadapannya, mentaatinya selain dalam kemaksiatan dan mencari ridhanya dalam segala sesuatu. Sehingga dalam masalah jihad sekalipun, apabila itu fardhu kifayah, maka tidak boleh kecuali dengan izinnya, karena berbuat baik kepadanya termasuk fardhu 'ain.
Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW, lalu ia berkata, "Wahai Rasulullah, saya ingin ikut berperang, saya datang untuk bermusyawarah dengan engkau." Maka Nabi SAW bertanya, "Apakah kamu masih mempunyai ibu?" Orang itu menjawab, "Ya." Nabi bersabda, "Tetaplah kamu tinggal bersamanya, sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua telapak kakinya." (HR.Nasa'i)
Ada sebagian sistem yang menghilangkan kekerabatan seorang ibu dan tidak menganggapnya penting, maka datanglah Islam memberikan wasiat kepada saudara ibu laki-laki dan perempuan dan saudara ayah laki-laki dan perempuan.
Ada seorang lelaki datang kepada Nabi SAW lalu berkata, "Sesungguhnya saya telah berbuat dosa, apakah saya masih bisa bertaubat?" Maka Nabi SAW bersabda, 'apakah kamu mempunyai ibu?" la berkata, "Tidak." Nabi bertanya, "Apakah kamu mempunyai bibi?" la menjawab, "Ya" Nabi bersabda, "Berbuat baiklah kepadanya." (HR. Tirmidzi)
Di antara keajaiban Syari'at Islam itu adalah bahwa Islam itu memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada ibu, meskipun ia musyrik. Sebagaimana yang ditanyakan oleh Asma' binti Abu Bakar kepada Nabi SAW tentang hubungannya dengan ibunya yang musyrik. Maka Rasulullah SAW bersabda, "Ya, tetaplah kamu menyambung silaturrahmi dengan ibumu." (HR. Muttafaqun 'Alaih)
Di antara perhatian Islam terhadap seorang ibu dan haknya serta perasaannya bahwa Islam telah menjadikan ibu yang dicerai itu lebih berhak untuk merawat anaknya dan lebih baik daripada seorang ayah.
Ada seorang wanita bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya anakku ini dahulu saya yang mengandungnya, dan susuku menjadi minumannya dan pangkuanku menjadi tempat ia berlindung. Tetapi ayahnya telah menceraiku dan ingin mengambilnya dariku, maka Nabi SAW bersabda kepadanya' "Engkau lebih berhak (untuk merawatnya) selama engkau belum menikah." (HR. Ahmad)
Umar dengan isterinya yang dicerai pernah mengadu kepada Abu Bakar tentang putranya yang bernama 'Ashim, maka Abu Bakar memutuskan untuk memberikan anak itu kepada ibunya. Kemudian Abu Bakar berkata kepada Umar, "Baunya, ciumannya dan kata-katanya lebih baik untuk anak itu daripada darimu." (HR. Sa'id)
Kekerabatan ibu itu lebih mulia daripada kekerabatan ayah di dalam masalah perawatan.
Keberadaan ibu yang telah diperhatikan oleh Islam dengan sepenuh perhatian ini dan yang telah diberikan untuknya hak-hak, maka dia juga mempunyai kewajiban, yakni mendidik anak-anaknya, dengan menanamkan kemuliaan kepada mereka dan menjauhkan mereka dari kerendahan. Membiasakan mereka untuk taat kepada Allah dan mendorong mereka untuk mendukung kebenaran dan tidak menghalang-halangi mereka untuk turut berjihad karena mengikuti perasaan keibuan dalam hatinya. Sebaliknya ia harus berusaha memenangkan seruan kebenaran daripada seruan perasaan.
Kita pernah melihat seorang ibu yang beriman seperti Khansa di dalam peperangan Qadisiyah. Dialah yang mendorong empat anaknya dan berpesan kepada mereka untuk berani maju ke depan dan teguh menghadapi peperangan dalam kata-katanya yang mantap dan menarik. Ketika peperangan belum selesai, sudah ada pemberitahuan bahwa semua anaknya telah syahid, maka Khansa tidak gusar ataupun berteriak-teriak, bahkan ia berkata dengan penuh ridha dan yakin, "Segala puji bagi Allah yang telah memberi kemuliaan kepadaku dengan gugurnya mereka di jalan-Nya."

WANITA SEBAGAI ISTRI

Sebagian agama dan sistem menganggap wanita sebagai barang yang najis atau sesuatu yang menjijikkan dari perbuatan syetan yang harus dijauhi dan lebih baik hidup menyendiri.
Sebagian yang lainnya menganggap bahwa kedudukan seorang istri sekedar sebagai alat pemuas nafsu bagi suaminya atau yang meladeni makanannya dan menjadi pelayan di dalam rumah tangganya.
Maka Islam datang untuk mengumumkan batalnya kerahiban dan melarang hidup menyendiri (tak mau menikah selamanya). Sebaliknya, Islam mengajarkan kepada kita bahwa pernikahan adalah salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah dalam kehidupan ini. Allah SWT berfirman:
"Dan di antara tanda-tanda kekuasann-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhrya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (Ar-Rum: 21)
Ada sebagian sahabat Rasulullah SAW yang ingin memusatkan perhatiannya untuk beribadah dengan cara berpuasa sepanjang siang dan shalat sepanjang malam serta menjauh dari wanita. Maka Rasulullah SAW mengingkari hal itu dengan mengatakan:
"Adapun saya, berpuasa dan makan, shalat dan tidur dan menikahi wanita, maka barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku, maka tidak termasuk golonganku." (HR. Bukhari)
Islam telah menjadikan istri yang shalihah merupakan kekayaan paling berharga bagi suaminya setelah beriman kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya. Islam menganggap istri yang shalihah itu sebagai salah satu sebab kebahagiaan.
Rasulullah SAW bersabda, "Seorang mukmin tidak memperoleh kemanfaatan setelah bertaqwa kepada Allah Azza wa jalla yang lebih baik selain istri yang shalihah, jika suami menyuruhnya dia taat, jika dipandang dia menyenangkan, jika ia bersumpah kepadanya dia mengiyakan, dan jika Suami pergi (jauh dari pandangan) maka dia memelihara diri dan harta (suami)nya" (HR. Ibnu Majah)
Rasulullah SAW bersabda, "Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah." (HR. Muslim)
Rasulullah SAW bersabda, "Di antara kebahagiaan anak Adam (adalah) istri shalihah, tempat tinggal yang baik, dan kendaraan yang baik. (HR. Ahmad)
Islam mengangkat nilai wanita sebagai istri dan menjadikan pelaksanaan hak-hak suami-istri itu sebagai jihad di jalan Allah.
Ada seorang wanita datang kepada Nabi SAW bertanya, "Wahai RasuIullah, sesungguhnya aku adalah delegasi wanita yang diutus kepadamu dan tidak ada satu wanita pun kecuali agar aku keluar untuk menemui engkau." Kemudian wanita itu mengemukakan permasalahannya dengan mengatakan, "Allah adalah Rabb-nya laki-laki dan wanita dan ilah mereka. Dan engkau adalah utusan Allah untuk laki-laki dan wanita, Allah telah mewajibkan jihad kepada kaum laki-laki sehingga apabila mereka memperoleh kemenangan akan mendapat pahala, dan apabila mati syahid mereka akan tetap hidup di sisi Rabb-nya dan diberi rizki. Amal perbuatan apakah yang bisa menyamai perbuatan mereka dari ketaatan? Nabi SAW menjawab, "Taat kepada suami dan memenuhi hak-haknya tetapi sedikit dari kaum yang bisa melaksanakannya." (HR. Tabrani)
Islam telah menetapkan untuk istri hak-hak yang wajib dipenuhi oleh suaminya. Hak-hak itu tak sekedar tinta di atas kertas, akan tetapi Islam menjadikan lebih dari itu yaitu yang mampu memelihara dan mengawasi. Pertama, keimanan dan ketaqwaan seorang Muslim, kedua, hati nurani masyarakat dan kesadarannya, dan ketiga keterikatan dengan hukum Islam.
Pertama kali hak yang wajib dipenuhi seorang suami terhadap istrinya adalah mas kawin yang telah diwajibkan oleh Islam sebagai tanda kecintaan seorang suami terhadap istrinya. Allah SWT berfirman,
"Berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika: mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati; maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya." (An-Nisa': 4)
Maka di manakah letak wanita dalam peradaban selain Islam yang memberikan sebagian hartanya kepada kaum lelaki, padahal fithrah Allah telah menjadikan wanita itu menuntut dan tidak dituntut (untuk memberi harta).
Hak yang kedua yang harus dipenuhi seorang suami terhadap istrinya adalah nafkah. Seorang suami diwajibkan untuk mencukupi makanan, pakaian, tempat tinggal dan pengobatan kepada istrinya.
Rasulullah SAW menjelaskan hak-hak wanita yang harus dipenuhi oleh seorang suami dalam sabdanya, "Dan bagi wanita (yang diwajibkan) atas kamu (kaum lelaki) rizki mereka dan pakaian mereka dengan ma'ruf (baik)." Yang dimaksud dengan ma'ruf adalah sesuatu yang dianggap baik oleh ahli agama tanpa berlebihan dan tanpa mengurangi. Allah berfirman:
"Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannnya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadannya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kesanggupan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan." (At-Thalaq:7)
Hak yang ketiga adalah mempergauli dengan baik. Allah SWT berfirman, "Dan pergaulilah mereka (istri-istrimu), baik dalam berbicara, wajah yang berseri-seri, menghibur dengan bersendagurau dan mesra dalam hubungan.
Rasulullah SAW bersabda, "Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaqnya, dan yang paling bersikap lemah lembut terhadap keluarganya." (HR. Tirmidzi)
Ibnu Hibban berkata dari Aisyah ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan saya adalah sebaik-baik (perlakuan) terhadap keluarga saya."
Sirah Nabawiyah secara aplikatif telah membuktikan kelembutan RasuIullah SAW terhadap keluarganya dan akhlaq beliau sangat mulia terhadap para istrinya. Sampai-sampai Rasulullah SAW sering membantu para istrinya untuk menyelesaikan tugas-tugas di rumah dan di antara kelembutan Rasulullah SAW adalah bahwa beliau pernah mendahului Aisyah berlomba lari dua kali, lalu Aisyah mengalahkan beliau sekali dan sekali lagi dalam kesempatan yang lainnya. Maka beliau berkata kepada Aisyah "Ini dengan itu (skor sama)."
Sebagai timbal balik dari pelaksanaan hak-hak yang wajib dipenuhi seorang suami terhadap istrinya, maka Islam mewajibkan kepada istri untuk mentaati suami di luar perkara maksiat. Serta memelihara hartanya, sehingga seorang istri tidak boleh mempergunakan harta tersebut kecuali dengan izinnya. Demikian juga seorang istri wajib memelihara rumahnya sehingga tidak boleh memasukkan orang ke dalam rumahnya kecuali atas seizin suaminya, walaupun itu keluarganya.
Kewajiban-kewajiban ini tidak banyak dan tidak bersifat menzhalimi seorang istri, jika dibandingkan dengan kewajiban yang harus dipenuhi oleh suaminya. Oleh karena itu setiap hak selalu diimbangi dengan kewajiban, dan di antara keadilan Islam bahwa Islam tidak menjadikan kewajiban itu hanya dibebankan pada wanita saja atau laki-laki saja.
Diriwayatkan bahwa sesungguhnya Ibnu Abbas pernah berdiri di depan cermin untuk memperbagus penampilannya. Ketika ditanya beliau menjawab, "Aku berhias untuk istriku sebagaimana istriku berhias untukku," kemudian membacakan ayat yang artinya:
"Dan para wanita mernpunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya ." (Al Bagarah: 228)
Ini adalah bukti yang nyata tentang dalamnya pemahaman Rasul dan sahabat terhadap Al Qur'an.

Kemandirian Seorang Istri

Islam tidak membiarkan kepribadian wanita itu larut untuk mengikuti kepribadian suaminya sebagaimana tradisi barat. Mereka menjadikan wanita mengikuti suaminya, sehingga nama sang istri tidak begitu dikenal. Demikian juga nasab dan marganya, tetapi cukup dikatakan "fulanah istrinya si fulan."
Adapun Islam telah menempatkan kepribadian wanita secara mandiri. Oleh karena itu kita mengenal istri-istri Rasul SAW dengan nama-nama dan nasabnya seperti: Khadijah binti Khuwailid, Aisyah binti Abu Bakar, Hafshah binti Umar, Maimunah binti Al Harits, dan Shafiyah binti Huyyai yang bapaknya adalah seorang Yahudi yang pernah memerangi Rasulullah SAW.
Sebagaimana kepribadian wanita saat ini tak akan terkurangi dengan ia menikah dan tidak akan kehilangan kemampuannya dalam hal perjanjian jual beli dan muamalah. Dia berhak menjual dan membeli, dia berhak memberi upah, dia berhak memberikan hartanya, bershadaqah, memberi makan dan sebagainya.
Pemahaman seperti ini belum sampai pada wanita Barat kecuali baru-baru ini saja. Dan di sebagian negara, wanita masih sangat terikat dengan keinginan suaminya.